Jumat, 01 April 2016

4 puisi dalam Film Ketika Tuhan Jatuh Cinta


"Tidak kau renungkan, 
bahwa segala cobaan 
dan masalah yang terjadi dalam hidup hingga memaksa kita untuk meneteskan air mata adalah suatu pertanda.... 
Ketika Tuhan Jatuh Cinta"



I
Aku menjadi sebait puisi yang kesepian
Semakin ku coba bernyanyi, kian sesak hatiku
Sabda-sabda cintaku, kini serasa tak bermakna lagi
Adalah ketika yang kusanjung tak memiliki arti bahasa hati

II
Langit masih biru, sejak pertama kali diciptakan sampai sekarang. Embun pun masih terang dan sejuk setiap kali hadir di dedaunan yang selalu merindunya tanpa henti.. Namamu pun rupanya tak mau kalah, masih tetap tersimpan di hati ini sejak waktu mempertemukan.

Akhirnya sampai pada sebuah kesimpulan. Ruhku bertasbih pada Tuhan semesta alam.. Isyarat cinta kepada-Nya dan kepadamu. (Ahmad Hizalul Fikri)

III
Hari berganti, waktu pun berlalu.
Tak mau memahami.
Kisah yang telah kau berikan padaku.
Kini ku bingkai indah.
Tak mau ku hapus.
Walau dengan kehadiran pangeran lain.

IV
Berkali-kali sudah ku dapati, bahwa rasa begitu menikamku
Memendam ini sangat menyakitkan untukku
Melihatmu aku mampu tersenyum
Disaat bersamaan aku mampu untuk terbaring, hening, diam. Luka ini begitu dalam hingga pasir pun tak dapat berkata apapun hingga tangan tak mampu bergerak
Lupa aku apa itu artinya cinta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

anda sopan, saya segan (✿◠‿◠)