Kamis, 13 Desember 2012

Sebaik - baik manusia Tausyiah Aa Gym


SEBAIK-BAIK MANUSIA Ternyata derajat kemuliaan seseorang dapat dilihat dari sejauh mana diri punya nilai manfaat bagi orang lain. Rasulullah SAW bersabda “Khairunnas anfa’uhum linnas” 



“Sebaik-baik manusia diantaramu adl yg paling banyak mamfaat bagi orang lain.” Hadits ini seakan-akan mengatakan bahwa jikalau ingin mengukur sejauh mana derajat kemuliaan akhlak kita maka ukurlah sejauh mana nilai manfaat diri ini? Istilah Emha Ainun Nadjib- tanyakanlah pada diri ini apakah kita ini manusia wajib sunat mubah makruh atau malah manusia haram? Apa itu manusia wajib? Manusia wajib ditandai jikalau keberadan sangat dirindukan sangat bermamfat perilaku membuat hati orang di sekitar tercuri. Tanda-tanda yg nampak dari seorang manusia wajib diantara dia seorang

Senin, 10 Desember 2012

Menggapai Cinta Allah

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِ الرحمن الرحيم


Rasulullah s.a.w. bersabda: 
"Allah, Yang Maha Agung dan Mulia menjumpaiku 
- yakni dalam tidurku - kemudian berfirman kepadaku, 
"Wahai Muhammad, katakanlah : 
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk mencintai-Mu,
mencintai siapa saja yang mencintai-Mu, 
serta mencintai perbuatan yang mengantarkan aku 
untuk mencintai-Mu."


Dalam amal ubudiyah, cinta (mahbbah) menempati derajat yang paling tinggi. Mencintai Allah dan rasul-Nya berarti melaksanakan seluruh amanat dan ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasul, disertai luapan kalbu yang dipenuhi rasa cinta.
Pada mulanya, perjalanan cinta seorang hamba menapaki derajat mencintai Allah. Namun pada akhir perjalanan ruhaninya, sang hamba mendapatkan derajat wahana yang dicintaiNya. 

ZUHUD, CINTA ALLAH, CINTA RASUL


بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِ الرحمن الرحيم


Allah Swt berfirman, "katakanlah, jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscya Allah mengasihi kalian"(QS Ali `Imran [3]:31).

Ketahuilah, wahai yang dikasihi Allah, bahwa kecintaan hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah ketaatan dan kepatuhan kepada perintah Allah dan Rasul-Nya. Adapun kecintaan Allah kepada hamba-Nya adalah limpahan ampunan-Nya kepadanya.

Ada yang mengatakan, apabila hamba mengetahui bahwa kesempurnaan yang hakiki tiada lain kecuali milik Allah dan setiap yang tampak sempurna dari dirinya atau orang lain adalah dari dan kerena Allah, cintanya hanya milik dan kepada Allah. hal itu menuntut keinginan menaati-Nya dan mencintai segala yang mendekatkan diri kepada-Nya. Oleh karena itu,mahabbah ditafsirkan sebagai keinginan untuk taat dan kelaziman mengikuti Rasulullah Saw dalam peribadatannya. Hal itu merupakan dorongan menuju ketaatan kepada-Nya. 

Minggu, 09 Desember 2012

Menjaga Semangat


dunia akan cerah

selama cahaya masih ada
dunia akan tetap penuh dengan tantangan

karena jalan berliku tetap menghadang...
asa adalah sebuah pengharapan

selama masih ada tujuan
selama ada keyakinan

maka masih ada jalan untuk kesana
walau harus menuruni jurang yang terjal....
.....ataupun harus menaiki tebing yang tinggi

janganlah ada kata menyerah

karena apa yang kita lakukan dulu, adalah pelajaran dari sang Maha Guru...
masa lalu adalah sebuah tongkat penuntun jalan...

agar tidak jatuh pada lubang yang sama

masa depan adalah tantangan
yang harus dihadapi dengan sebuah keberanian..


Sabtu, 08 Desember 2012

Nikmat Bersyukur

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِ الرحمن الرحيم

bersyukur dapat meningkatkan kesehatan fisik dan emosional. Memiliki gaya hidup penuh rasa 
syukur dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan 
suplai darah ke hati kita. 
Jika kita melakukan dengan rutin hal ini, maka dapat meningkatkan kewaspadaan kita, antusiasme, energi dan juga meningkatkan kualitas tidur kita. Mereka yang menggambarkan dirinya sebagai orang yang penuh rasa syukur cenderung jarang stres dan depresi.




“Dan sesungguhnya telah Kami berikan hikmah kepada Luqman, yaitu: Bersyukurlah kepada Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji.” 
(QS. Al Luqman : 31)





Allah memberi pemisalan dan gambaran nyata bagi mereka yang ingin mendapatkan hidayah...







Jumat, 07 Desember 2012

5 Mitologi dalam Islam




Agama Islam muncul pada abad ketujuh, dan setelah berkembang ke seantero jazirah Arab orang-orang yang baru masuk Islam masih mewarisi pengaruh dari Mitologi Arab pra-Islam maupun Mitologi pra-Yahudi dan Mitologi pra-Kristen dalam memahami ajaran Al-Quran maupun Hadits Nabi Muhammad. Apapun istilahnya, terminologi mitologi mungkin dirasakan kurang tepat. Karena sesuatu yang disebutkan dibawah ini, diceritakan keberadaannya oleh kitab dan hadits. Namun dalam agama Islam, ketika “mitologi” itu bersinggungan dengan masalah aqidah, dia harus diyakini sebagai bentuk keimanan.
Berikut 5 “mitologi” terkenal dalam agama Islam:

Sepenggal Sejarah Tentang Leluhur Bangsa Jawa


Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera.

Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.

Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.



Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim

Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis… dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim.

Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa EURO-Semitik).